Minggu, 24 Juni 2012

Rumah Masa Kecil bagian pertama

Tak ada yang akan mengira rumah berdinding papan di pinggir jalan itu pernah jadi tempat paling nyaman menghabiskan masa kecil. Sejak usia dua atau tiga tahun, rumah itu jadi tempat mengasah langkah langkah pertama didunia. Sederhana saja, rumahnya bercat hijau, entah dari awalnya dan seingatku memang selalu seperti itu. Didepan agak ke samping kanan, sebuah pohon mangga, yang sampai dewasa aku berusaha memeluk batangnya, kedua tanganku tak pernah sampai karena besarnya. Disebelah kanan rumah, tepat dibawah pohon mangga, ada sebuah bengkel las karbit milik seorang lelaki tua hebat yang sekarang sudah tiada. Mungkin akan jadi bahan cerita di lain waktu.

Rumah itu , Cuma punya satu tetangga, ya memang satu satunya, karena depan berbatasan dengan jalan raya, sementara belakang dan sekitarnya merupakan sawah. Tetangga rumah adalah sebuah keluarga dari tanah Sunda, punya usaha foto pertama dan satu satunya bagiku. Tempat itu memang jadi tempat keluarga perantauan, seperti keluargaku dan keluarga mereka. Satu yang ku ingat, sejak kecil sampai sekarang, tempat itu adalah tempat paling nyaman dengan segala kesederhanaannya.

Mudah untuk mendefinisikan seperti apa tingkah polah ku saat itu. Kecil dan bandel. Mungkin banyak yang terlupa, tapi katanya dulu sangatlah mudah membuatku menangis. Wajar, saat itu teman bermainku adalah mereka yang lebih tua, dan jarang ada anak kecil yang seumuran.  Nah depan jalan raya, ad tanggul saluran irigasi. Pintu airnya kami sebut pleret.  Tempat untuk mandi mandi dan berenang di saluran air, dengan sedikit aksi, bisa dilompati dari atas. Tidak dalam cuma 2 meter, tapi airnya tak pernah lebih dari 1,5 meter. Cukuplah bagi anak anak usia SD untuk menghabiskan waktu.

Namanya anak kecil, tidak lengkap rasanya kalau tidak bercerita tentang main, main dan main. Permainan favorit waktu itu bermacam macam. Bergantung musim istilahnya, ada gambar, bungkus rokok, dan berbagai mainan yang aneh, jika dibanding sekarang. Satu permainan yang paling menghebohkan adalah layangan. Musim layangan adalah musim dimana kita bisa berpanas ria, dengan sawah yang berlumpur dan sesekali menengok ke arah matahari, mencari angin. Ada lagi sebuah tempat yang sayang kalau tidak diceritakan. Sebuah gedung sekolah SMP yang sangat luas. Mungkin pagi hari itu bukan milik kami, tapi ingat saja, mulai jam 4 sampai 5.30, itu daerah teritorial kami. Permaian favorit adalah sepakbola, sebanding dengan petak umpet di kompleks sekolah yang luas. Yang sial adalah jika kami harus berjaga di depan tiang bendera, sementara yang lain bersembunyi di sekeliling sekolah yang begitu banyak spot spot asyik untuk uji nyali. Lebih sial lagi, kami sering iseng mengusili siapapun yang jaga, dengan cara memanjat pagar belakang sekolah dan pulang ke rumah sementara si anak yang ketiban sial, terus memutari kompleks sekolah mencari cari kami, sendirian.

Jumat, 20 April 2012

just laugh hard and forget about it. . . . dont ever recollect it, either. . .HAHA

dengarkan teman
dan ketika waktu membuat kita dewasa
seiring masa lama tak bersua
mungkin akan jadi cerita
jika semua mimpi dan kata
menjadi catatan dalam goresan tawa

mungkin 10 tahun lagi
kita bertemu kembali
kau akan bercerita
tentang anakmu yang masih bayi
tentang anakmu yang tumbuh gigi
tentang harga susu yang semakin
tinggi dan
tentang dia yang kau cintai

atau masa 20 tahun lagi
kau bercerita
tentang sekolah anakmu yang
masuk pagi
tentang pekerjaan yang kau
tekuni
dan tentang mimpi yang belum
terpenuhii

30 tahun lagi
kita disini
mungkin ada beberapa kawan yang mendahului pergi
itu semua tiada sebanding
dengan semua yang terlewati

40 tahun
adakah kita masih sanggup berdiri
dengan ragawi yang tak lagi
menjadi tumpuan
kita cuma bisa menangisi. . .
karena. . . .
nyatanya teman. . .

kita sudah terlalu lama
memendam cerita, teman. . . .

Minggu, 22 Januari 2012

even though I badly let me be myself, I'm proud, I’m happy !!!

Bahagia, sebuah kata yang diidamkan banyak orang. Bahagia berarti dalam keadaan atau perasaan senang  dan tenteram serta bebas dari hal yang menyusahkan. Yang jadi masalah, bagi tiap tiap manusia definisi mengenai hal yang meyusahkan , pastilah berbeda.  Abraham Maslow, pakarnya teori kebutuhan manusia, menjelaskan manusia memiliki tingkatan kebutuhan. Orang yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya akan mendefinisikan kesusahan sebagai kondisi  dimana ia kekurangan makanan, minuman, tidak punya rumah dan lain lain.  Lalu jika semua keadaan di atas sudah terpenuhi, akankah manusia menjadi bahagia? Ternyata tidak juga,  banyak dari manusia yang terlihat berkecukupan , namun mereka masih menemukan kekosongan jiwa.
Apa sebenarnya yang jadi masalah mereka yang jiwanya kosong? Bahagianya seseorang bergantung pada orientasi hidupnya, yaitu bisa berupa hal yang bersifat material, spiritual ataupun fungsi atau peran.  Nah disinilah letak perbedaannya, banyak manusia terlalu terpaku pada hal hal di luar diri kita dalam mencari kebahagiaan, bukan membenahi  orientasi kebahagiaan kita. Banyak yang menyikapi bahagia dengan persaingan dengan manusia lain, seperti bersaing dalam harta, jabatan dan popularitas. Bahkan persaingan ini seakan menjadi orientasi kehidupan, tanpa menyadari seharusnya bersyukur atas apa yang didapat.
Sekedar cerita tentang Nasruddin Hoya yang sekiranya pas bagi kehidupan kita.
Suatu hari , Nasruddin yang telah berjam jam mengorek halaman rumahnya yang penuh pasir, ditanya oleh  tetangganya . Sang tetangga rupanya merasa iba, melihat hari sudah semakin gelap dan apa yang dilakukan Nasruddin tak kunjung selesai.
“ Apa yang engkau cari wahai Nasruddin, ber jam jam engkau mengorek pasir dihalaman rumahmu?
“Sebatang Jarum milikku jatuh “ sahut Naruddin.
“ Jarumnya jatuh dimana?” Tanya sang tetangga.
“ Didalam rumah” jawab Nasruddin.
“ Kalau jatuh didalam , kenapa engkau mencarinya diluar??
“ Karena didalam rumah sangat gelap, dan diluar terang “ sahut Nasruddin tanpa rasa bersalah.

Nah, Begitulah kita, sering mencari kebahagiaan di luar diri kita, melalui harta, popularitas , jabatan ,dan persaingan dengan manusia lain. Padahal sumber kebahagiaan itu ada di dalam diri kita sendiri. Buat apa kita jauh jauh  mencari jika sumbernya ada didalam Hati!!


even though I badly let me be myself, I'm proud, I’m happy. . . . . .
biarpun aku jelek biarkanlah aku menjadi diriku sendiri, aku bangga, aku bahagia. . . .
(PATRICK STAR _ AKU BANGGA DAN AKU BAHAGIA!!! )

Selasa, 17 Januari 2012

Gusti Allah Kie Ora Sare , Lee. . .

Banyak orang berfikir dalam hidup mereka, sebenarnya apa yang diinginkan Tuhan sehingga mereka dihadapkan pada masalah yang begitu berat. Itu pula yang menjadi pertanyaan saya selama ini. Apa benar Tuhan itu tahu apa yang saya rasakan dari masalah masalah yang saya hadapi sekarang? Ataukah Tuhan sudah yakin, bahwa saya mampu menyelesaikan masalah itu?Sabar sejenak kawan, kita bisa menjawabnya satu persatu.Mulailah dengan mengkondisikan diri anda pada satu titik yang kita anggap sebagai zona wajar.

Zona wajar ini merupakan titik dimana kita merasa nyaman sampai batas kejenuhan tertentu. Batas kejenuhan ini yang seringkali diwujudkan dalam sikap manusia yang mengeluh, mempertanyakan keputusan Tuhan dan mulai berandai andai jika masalah itu tidak ada. Mengeluh, wajar bagi manusia, tapi wajarkah jika itu dilakukan tiap hari? Hanya orang yang bodoh yang mengeluh setiap hari, ini pendapat saya pribadi tentunya. Coba dibayangkan saja, berapa waktu anda yang terbuang hanya dengan 1 keluhan tiap hari.Mengeluh tak akan menyelesaikan masalah kawan, cuma menambah pikiran anda menjadi jenuh.

Mempertanyakan keputusan Tuhan adalah hal lain lagi. Semua yang kita jalani sekarang , ya merupakan keputusan Tuhan yang terbaik tanpa bisa disangkal lagi.Anda begitu teracuni pikirannya, sampai berani meragukan Yang Maha Tahu atas semua yang terjadi pada makhluqNya. Beranikanlah diri anda untuk menghadapi semua yang ada dihadapan anda. Keluarlah dari zona wajar, berusaha dan berupaya sampai batas kemampuan anda yang paling jauh. Tuhan selalu bisa membantu kita, dengan tanganNya ataupun perantara makhluq ciptaanNya.

Dari semua yang ada diatas, semuanya mengarah pada satu kesimpulan. Dunia memang penuh dengan ketidakadilan, kepalsuan, kebohongan dan tentu saja kemunafikan. Manusia sebagai Animal of Problematic, selama hidup tidak bisa lari dari masalah, kecuali sudah mati, itupun ada yang dikejar masalah hingga liang kubur. Masalah bukan sesuatu yang menakutkan untuk dihadapi. Karenanya manusia lebih dewasa dalam menjalani hidup. Seperti yang orang tua sering menasehatkan " Gusti Allah kie ora sare " atau Tuhan itu tidak pernah tidur. Tuhan selalu punya cara untuk membuat makhluqNya merasakan hidup dan menyelesaikan masalah. Atau seperti ungkapan dari Leon Tolstoy, " Tuhan tahu ,tapi menunggu". Tuhan tahu apa yang terjadi pada setiap makhluqNya, tapi untuk memberi petunjuk, ada upaya yang harus dilakukan umatNya. Bukan sekedar berpangku tangan dan berharap masalah selesai dengan sendirinya.

Cukup sampai disini saya berlagak layaknya M*rio T*guh. Dipikir pikir mudah bagi beliau untuk menasehati kita, tapi sulit untuk menjalaninya. Tetap semangat. . . Fighting!!!!!



Jumat, 13 Januari 2012

MUSLIM PATTANI, MINORITAS DI NEGERI GAJAH PUTIH

Secara historis Pattani yang terletak di selatan Thailand mungkin pernah menjadi wilayah nusantara pada zaman Sriwijaya ataupun Majapahit. Secara faktor sosial budaya, Pattani lebih condong ke arah melayu mengingat selain kesamaan bahasa dan budaya, masyarakat Pattani juga kebanyakan Muslim seperti penduduk Indonesia dan Malaysia. Ini kontras dengan kebanyakan warga Thailand yang menganut agama Budha sebagai agama negara. Suasana Pattani pun berbeda, budaya muslim begitu terasa. Kaum wanita mengenakan jilbab, sementara yang laki laku memakai kopiah putih dan memakai sarung. Tua muda berseliweran dengan berjalan kaki, naik motor tanpa helm, ataupun dengan angkutan umum. Penduduknya lebih banyak berkomunikasi dalam bahasa Melayu ketimbang bahasa Thai yang terdengar sengau. Namun, bahasa Melayu Pattani terdengar berbeda dibandingkan dengan Melayu serumpun di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Perjalanan masyarakat Pattani sangatlah jauh berbeda dengan masyarakat Thailand kebanyakan. Pada mulanya Pattani adalah sebuah kerajaan Islam. Pada tahun 1457, daerah Pattani berpenduduk mayoritas Melayu Muslim. Mengutip buku Thailand 2007 yang diterbitkan pemerintah setempat, Provinsi Pattani memiliki penduduk mayoritas muslim. Bersama dengan Provinsi Songkhla, Yala, dan Narathiwat, keempatnya dijuluki sebagai Pattani Darussalam yang berarti gabungan dari empat provinsi mayoritas muslim di selatan Thailand .
Keadaan mulai berubah ketika Kerajaan Siam ( Thailand ) pada 1875 datang dan menguasai Pattani. Perkembangan selanjutnya ketika Inggris datang dan menguasai Semenanjung Malaka dan ini membuat sebuah perjanjian tentang pembagian kekuasaan. Wilayah Pattani tetap dikuasai Thailand, sedangkan Perlis dan daerah yang menjadi negara Malaysia sekarang dikuasai Inggris. Pattani yang secara etnis dan budaya berbeda dengan kebanyakan penduduk Thailand menjadi masalah tersendiri. Pada awalnya, meskipun terjadi pertentangan, tidak sampai membesar seperti sekarang ini. Thailand pada perkembangannya memberikan banyak diskriminasi kepada penduduk Muslim Pattani. Akibatnya tidak sedikit gelombang protes dan perlawanan kepada Pemerintah Thailand untuk menuntut perbaiakan dan persamaan hak bahkan untuk mendapatkan kemerdekaan.
Diskriminasi ini berwujud pada ketidak adilan dalam pembangunan dan pemerataan kemakmuran bagi masyarakat Pattani. Masyarakat Muslim Pattani sering diperlakukan tidak adil dalam berbagai bidang kehidupan. Pembangunan di Pattani tidaklah seperti wilayah Thailand lain. Keberadaan masyarakat yang berbeda membuat Thailand seperti setengah hati dalam menghidupi masyarakat Pattani. Bahkan secara eksplisit, masyarakat Pattani dibelenggu kebebasannya khususnya dengan pemberlakuan Undang Undang yang silih berganti semakin menambah penderitaan masyarakat Pattani, yaitu (1) Darurat Militer, (2) Darurat Sipil, dan (3) Undang-Undang Terorisme.
Perlawanan masyarakat Pattani dalam menuntut hak mereka memang baru berkembang setelah periode 90an. Masuknya gerakan fundamental yang membawa perjuangan menjadi lebih modern dan terorganisir. Akan tetapi perlu diingat peranan para ulama dan kaum terpelajar dalam perjuangan ini begitu penting. Ulama menjadikan pesantren sebagai basis penggemblengan akidah dan akhlaq kaum muda , yang menjadi dasar perjuangan muslim Pattani. Akibatnya bisa ditebak, dengan pembatasan akan kebebasan bagi masyarakat Pattani, malah menjadi penyemangat bagi mereka untuk maju. Keinginan untuk memiliki sebuah pemerintahan yang mengakomodir kepentingan kaum Muslim Pattani  menjadi sebuah masalah tersendiri bagi pemerintahan yang melabeli perlawanan Muslim Pattani dengan sebutan “ teroris “. Perkembangannya konflik saat ini membawa masyarakat Pattani pada perjuangan tanpa henti dengan dimotori para ulama.Ulama Pattani pun menjadi semacam rebutan bagi pemerintah Thailand untuk mencari simpati dan dukungan. Sehingga dalam golongan ulama Pattani sendiri terbagi bagi menjadi 3 kelompok yaitu yang mendukung perjuangan, mendukung pemerintah Thailand dan yang berada diantara keduanya.
Ulama yang pertama adalah ulama yang berjuang langsung mengangkat senjata. Di siang hari, mereka berprofesi sebagai pendidik, pengacara, pebisnis atau bahkan pengasuh pondok pesantren sekalipun. Namun pada malam hari mereka menenteng senjata dan terjun langsung ke medan pertempuran. Ciri-ciri gerakan ini adalah, mereka menitikberatkan pada doktrin yang mengandung pokok pokok perjuangan jihad. Mereka juga menolak pembangunan atau rencana pembangunan dari pemerintah Thailand yang mereka anggap sebagai kepanjangan dari bangsa Barat. Bagi mereka nasib muslim Pattani harus mereka perjuangkan sendiri dan bukan bergantung pada pemerintah Thailand.
Ulama yang kedua adalah ulama yang pro terhadap pemerintah Thailand. Pada dasarnya Thailand tidak membatasi kebebasan penduduknya dalam beragama, akan tetapi pada perkembangan selanjutnya ada berbagai ketidak adilan yang diterima kaum muslim di Thailand selatan. Ini bisa diakibatkan dengan tekanan dari berbagai pihak terutama kalangan politisi yang pro barat. Kelompok ulama yang merasa tidak mendapat tentangan dari pemerintah menjadi pendukung dari pemerintah Thailand. Mereka menjadi corong pemerintah dalam kebijakannya terkait kawasan Pattani. Pendirian mereka, Islam mengajarkan untuk menjunjung tinggi pemimpin suatu negeri, meskipun itu berbeda keyakinan, sehingga menghiondari konflik dengan pemerintah.
Sedangkan tipe yang ketiga adalah ulama yang menentang sesuatu yang dianggap berlebihan kepada kaum Muslim Pattani, tetapi bila ada kebijakan yang dirasa cukup menguntungkan bagi kepentingan bersama mereka akan menjadi pendukung dari pemerintah Thailand. Sebenarnya dalam perjuangannya ulama ulama di Pattani dilakukan dengan sembunyi sembunyi, mengingat banyaknya militer Thailand yang dikirim ke kawasan Pattani. Kawasan Pattani seolah olah menjadi daerah peperangan mengingat banyaknya personil militer yang dikerahkan. Bahkan di tiap jalan jalan utama selalu dipenuhi dengan pos pos penjagaan yang memeriksa setiap kendaraan yang melintas.
Meskipun secara umum situasi Pattani tampak tenang, tetapi seakan menjadi sebuah bom waktu yang siap meledakkan potensi konflik terbuka setiap saat. Masyarakat Pattani yang hidup dalam ketakutan ( mirip suasana Aceh yang agamis pada masa Daerah Operasi Militer ) oleh pengawasan dari militer Thailand. Kehidupan pun berjalan seperti penuh dengan kewaspadaan akan terjadi suatu peperangan. Diperlukan suatau dukungan bagi kedua pihak untuk mendapatkan apa yang selama ini menjadi tujuan sehingga membawa keadilan bagi kedua pihak yang bertikai.


Sumber terkait :
Majalah Sabili no 21 , 7 Mei 2009 “Hancurnya Pondok Kami” oleh Mahmudah Ahmadiah
Tempo no 39, 2 Januari 2008, “ Muslim Pattani, Sebuah Perjuangan” oleh Eko Setiawan
Arrahmah Media, 15 Oktober 2008 “ Ulama dalam Perjuangan Muslim Pattani”