Selasa, 12 April 2011

SARWO EDHIE WIBOWO, SANG JENDRAL KSATRIA

Sebagian dari kita hanya mengetahui Sarwo Edhi Wibowo sebagai mertua dari Presiden kita. Ibu Ani, istri Presiden, adalah putri dari beliau. Perannya dalam sejarah bangsa sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran krusial dalam penumpasan G30SPKI. Selain itu juga sebagai pendiri awal Orde baru. Akan tetapi selepas Soeharto menjadi presiden, perannya perlahan mulai berkurang. Posisinya dipindah ke luar Jawa. Kemudian bahkan ke Papua. Dan akhirnya menjadi gubernur AKABRI dan menjadi Jendral tanpa pasukan. Selepas itu perjalanan hidupnya mulai jauh dari dunia militer dengan menjadi Duta Besar. Dan sempat menjadi anggota DPR tetapi mengundurkan diri lebih cepat.
Dunia Militer sulit dilepaskan dari dunia politik. Apalagi, di Indonesia yang mempunyai sejarah panjang tentang keterlibatan militer dalam penentuan arah politik kekuasaan.Menjelang pertengahan tahun 1960-an, posisi PKI semakin kuat karena salah satu faktornya adalah adanya perlindungan dari Soekarno. Presiden Soekarno sendiri memakai PKI untuk mengimbangi kekuatan TNI-AD. Bulan Februari 1965, PKI melontarkan gagasan mengenai perlunya dibentuk Angkatan Kelima, milisi rakyat yang dipersenjatai dan terdiri dari buruh dan tani. Dan ini mencapai puncaknya ketika munculnya desas desus adanya sekelompok jenderal TNI-AD, yang tergabung dalam Dewan Jenderal, akan mengadakan perebutan kekuasaan negara dan menghancurkan PKI. Menjelang akhir September 1965, agitasi politik mengecam TNI-AD terus berjalan, dan semakin meningkat. Bahkan Soekarno sendiri dalam rapat umum pada tanggal 29 September 1965, mengatakan bahwa ada beberapa jenderal yang dulunya setia tetapi sekarang telah menjadi pelindung unsur-unsur kontra revolusioner dan untuk itu mereka semua harus dihancurkan.
Dini hari, 1 Oktober 1965, Gerakan 30 September menculik dan membunuh sejumlah jenderal TNI-AD. Para jenderal itu diculik dari rumahnya dengan dalih dipanggil oleh Presiden Soekarno agar segera ke Istana. Hanya satu orang yang lolos,yakni Menko Hankam KSAB Jenderal A.H. Nasution, meskipun demikian putrinya, Ade Irma Suryani dan ajudannya, yang disangka Jenderal A.H. Nasution, Lettu Piere A.Tendean, ikut menjadi korban.
Satu jam setelah kejadian tersebut pada pukul 05.00 WIB 1 Oktober 1965, Sarwo Edhie dibangunkan dari tidurrnya karena kedatangan tamu Kapten Subardi, ajudan Men/Pangad Achmad Yani, menghadap dan meminta agar Sarwo Edhie berangkat kerumah Achmad Yani karena sejam sebelumnya atasannya telah diculik oleh sejumlah anggota Cakrabirawa setelah terlebih dahulu ditembak. Dan Yon I RPKAD, Mayor C.I.Santosa langsung pergi ke Senayan dan menarik pasukannya yang sedang latihan untuk menyambut HUT ABRI, 5 Oktober 1965, agar segera kembali ke Cijantung. Memang ada masalah saat itu karena sebagian besar pasukan RPKAD sedang bertugas dalam konfrontasi dengan Malaysia di perbatasan.
Pada pukul 07.00 WIB, Sarwo Edhie dan sejumlah perwira berkumpul untuk mendengarkan siaran berita RRI yang mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi.Sarwo Edhie sendiri saat itu mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi kudeta, dan menduga Soekarno telah disingkirkan mengingat tidak disebut-sebut dalam dewan tersebut. Meskipun demikian, Sarwo Edhie tidak mengetahui secara pasti siapa yang berada di balik pembentukan dewan baru. Akhirnya, Sarwo Edhie memerintahkan delapan orang perwiranya, dengan pakaian preman, untuk menghubungi markas-markas yang dianggap paling penting seperti Staf Umum AD, Cakrabirawa, Kodam Jaya dan Kostrad.
Pasukan RPKAD yang ditarik dari Senayan kemudian dikumpulkan di Lapangan Merah. C.I. Santosa memerintahkan kepada mereka untuk tidak bergerak terlebih dahulu sebelum ada perintah dari Sarwo Edhie. Jika ada yang melanggar, maka C.I. Santosa sendiri yang akan menembaknya di tempat. Beberapa saat kemudian Sarwo Edhie datang dan menjelaskan kepada pasukannya mengenai penculikan para jenderal TNI-AD. Menurutnya, ini adalah akibat fitnah dari salah satu partai politik. Sementara itu kedudukan baik lawan maupun kawan tampaknya belum diketahui secara jelas. Selanjutnya Sarwo Edhie mengadakan pembicaraan dengan Soeharto mengenai kemungkinan penyerangan ke RRI dan Kantor Telekomunikasi (Telkom)—yang diduduki oleh komplotan Untung. Kemudian Sarwo Edhie kembali ke Cijantung dan disana, kira-kira pukul 13.30 WIB Sarwo Edhie memerintahkan prajurit RPKAD untuk menyetop truk untuk mengangkut pasukan RPKAD (Kompi Urip, Kayak, Tanjung,Sungkaryo, Muhadi, Sembiring, Edi Sudrajat dan Ramelan). Pada sore hari, Sarwo Edhie mendapat perintah untuk menguasai RRI dan Telkom sebelum pukul tujuh malam. Sementara itu, Batalyon 530/Brawijaya, yang diperalat Untung untuk menjaga Istana, telah kembali ke Kostrad atas pendekatan Soeharto, meskipun satu kompi telah berada di Halim. Kemudian, Batalyon 545/Diponogoro menjelang pukul 18.00 WIB meninggalkan istana menuju ke Halim, namun ada dua kompi akhirnya memisahkan diri dan selanjutnya bergabung dengan Kostrad. Menjelang magrib, Kompi Kapten Heru menyerang Telkom, sedangkan Kompi Kapten Urip menyerbu RRI. Ternyata kedua kompi tersebut, tidak menghadapi perlawanan berarti. Anak buah Untung nyatanya telah melarikan diri. Operasi ini berjalan lebih singkat dari waktu yang diperkirakan dan ternyata juga tidak ada sebutir peluru pun yang harus dilepaskan. Di tengah malam ketika Soeharto sedang memikirkan langkah berikutnya, Sarwo Edhie tiba-tiba muncul dan menanyakan kepastian pelaksanan menguasai Halim. Bersamaan dengan itu, Markas Kostrad dipindahkan ke Senayan sehubungan adanya informasi kalau AURI akan melakukan pemboman. Dua kompi Para Pomad di bawah Letkol Norman Sasono yang mengamankan Kostrad dan keluarga Pangkostrad sejak pagi hari, mengawal kepindahan pimpinan Kostrad ke Senayan.
Disana sudah ada sejumlah kompi dari Batalyon 328 Kujang/Siliwangi yang berjaga-jaga.19Dan Yon I RPKAD, Mayor C.I. Santosa, sebagai komandan penyergap, segera mengatur strategi. Batalyon 328 Kujang dan pasukan tank diperintahkan lalu-lalang dijalan utama untuk menarik perhatian. Penyerangan itu sendiri dilakukan lewat Klender karena jika melalui Bogor di sana ada beberapa markas militer yang belum ketahuan sikap kesatuannya terhadap Gerakan 30 September. Di Klender ada jalan sejajar menuju Halim yang biasanya dipakai latihan militer oleh RPKAD. Mayor C.I. Santosa memerintahkan pasukannya untuk melakukan manuver menghambat kemungkinan digunakannya pesawat-pesawat terbang oleh pihak musuh.
Akhirnya pertempuran antara RPKAD dan pendukung Gerakan 30 September, tidak dapat dihindari lagi. Di saat pertempuran masih berlangsung dan pasukan Untung mulai terdesak, Sarwo Edhie ingin menemui Presiden Soekarno. Keinginan ini menimbulkan dilema bagi C.I.Santosa karena di satu pihak, dia harus memimpin pertempuran, namun di pihak lain, dia harus juga menjaga keselamatan atasannya. Ketika panser yang dinaiki Sarwo Edhie baru saja bergerak beberapa menit, tiba-tiba dari arah yang berlawanan datang Jeep Toyota, mengibarkan bendera putih, dengan penumpangnya Komodor Dewanto. Kemudian terjadi pembicaraan yang intinya Komodor Dewanto menginginkan adanya gencatan senjata, sedangkan Sarwo Edhie mengatakan bahwa pasukan hanya tunduk pada pimpinan tertinggi. Akhirnya Sarwo Edhie setuju untuk memenuhi permintaan Dewanto agar menemui Laksamana Muda Sri Mulyono Herlambang. Melalui Sri Mulyono Herlambang, Sarwo Edhie mendapat penjelasan bahwa ada panggilan dari Presiden Soekarno. Kemudian, Sarwo Edhie, Dewanto, Sri Mulyono Herlambang dan dua pilot,dengan memakai helikopter, menuju ke istana menemui Presiden Soekarno yang telah meninggalkan Halim pada malam hari. Setelah bertemu, Sarwo Edhie mendapat penjelasan dari Soekarno bahwa saat ini Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata berada di tangannya. Akhirnya, Sarwo Edhie mendapat tembusan surat perintah dari Presiden Soekarno, sedangkan aslinya diberikan kepada Sri Mulyono Herlambang untuk diserahkan kepada Supardjo. Kolonel Sarwo Edhie yang kecewa dengan perkataan Soekarno yang menganggap ringan nasib para jenderal tersebut, kembali ke Halim. Setibanya di sana kegiatan tembak-menembak telah berhenti. Sebagian Batalyon 454 menyerahkan diri, dan sisanya lari dari Halim.
Tanggal 3 Oktober 1965 siang hari, pasukan RPKAD mulai mencari jenazah jenderal TNI-AD. Pencarian ini dibantu oleh seorang polisi, Sukitman yang pernah ikut ditawan tetapi dapat meloloskan diri dari pasukan Gerakan 30 September. Akhirnya diketemukan markas komplotan gerakan, tempat yang digunakan untuk membunuh para jenderal itu, di sekitar Lubang Buaya, pinggiran Pangkalan Udara Halim. Demikian juga dengan sumur kecil yang dipakai untuk mengubur para jenderal. Mengingat sudah larut malam, upacara pencarian tersebut ditunda. Besoknya, di bawah komando C.I. Santosa, operasi pencarian dan penggallian terus dilanjutkan, dengan mendapat bantuan dari Kesatuan Inti Para Amphibi dari KKO AL.
Sementara itu tuntutan agar PKI dilarang, terus mengalir dari berbagai pelosok daerah. Mendengar keadaan seperti ini, Soeharto di Jakarta memutuskan segera mengambil keputusan untuk mengirim RPKAD ke Jawa Tengah. Tanggal 17 Oktober 1965, RPKAD di bawah Komando C.I. Santosa bergerak menuju Semarang. Keesokan harinya, mereka sampai di Semarang dan langsung melakukan pameran kekuatan. Yon III RPKAD di bawah Komandan Mayor Kosasih dibebani tugas, dengan nama Operasi Muria, di daerah Demak – Purwodadi. Daerah Banyumas menjadi tanggung jawab KKO di bawah komando tanggung jawab KKO dibawah komando Kapten Sukarno, sedangkan Yon 431 PARA menempati posisi di daerah Pekalongan. Tanggal 19 Oktober 1965, kelompok komando RPKAD di bawah Sarwo Edhie dengan kawalan pasukan Letnan Dua Sintong Pandjaitan tiba di Semarang. Selanjutnya, dengan menumpang kereta api, telah tiba Yon Kavaleri di bawah pimpinan Mayor Kaveleri Sunarjo.
Pada hari yang sama, pasukan RPKAD mulai bergerak menuju rumah dan gedung yang diduga menjadi sarang pendukung Gerakan 30 September. Dalam gebrakan pertama berhasil ditahan sekitar 1.050 orang yang dicurigai dan berbagai barang bukti juga disita. Adanya gerakan RPKAD ini mendorong kaum anti-komunis mulai juga mengadakan perusakan dan pembakaran terhadap gedung PKI, Gerwani, dan pabrik rokok yang pemiliknya mendukung Gerakan 30 September. Pada tanggal 21 Oktober RPKAD menuju Magelang. Tugas RPKAD di Semarang menjadi tanggung jawab Mayor Subechi, Wa Dan Yon III dengan kekuatan Ki Urip, Ki Ramelan dan Ki Dakso. Sedangkan pasukan yang bergerak ke Magelang kemudian diperkuat oleh pasukan Ki Tejo dari Yon II RPKAD Magelang. Sebagaimana sebelumnya, kembali RPKAD melakukan pameran kekuatan bersenjata. Seperti di Semarang masyarakat yang anti-komunis memakai kesempatan ini membakar milik PKI, Baperki dan bahkan rumah Walikota Argo Ismojo yang komunis turut menjadi sasaran.
Ada informasi Kodim Boyolali sedang dikepung oleh ribuan Pemuda Rakyat yang bersenjatakan bambu runcing. Pada tanggal 22 Oktober, pukul 00.00 WIB, RPKAD langsung ke Boyolali. Satu kompi ditinggalkan di Yogyakarta untuk mengikuti upacara pemakaman Kolonel Katamso (Dan Rem 072) dan Letkol Sugijono (Kas Rem 072) yang menjadi korban Gerakan 30 September. Pukul 05.30 WIB, Satu Yon Panser dan Ki Kajat bergerak menuju Boyolali. Sisa-sisa pasukan bergerak ke Surakarta dan kemudian mengadakan pameran kekuatan. Pasukan RPKAD bergerak menuju ke stasiun Balapan untuk membubarkan pemogokan. Selanjutnya Sarwo Edhie mengatakan agar mereka jangan terpengaruh oleh Gerakan 30 September dan diminta untuk tidak usah ragu-ragu membantu ABRI menghancurkan gerakan tersebut sampai ke antek-anteknya. Meskipun demikian, dengan gerak cepat pasukannya bukan berarti Sarwo Edhie dapat menanamkan kewibawaannya ke seluruh daerah dan mampu menyapu bersih desa desa untuk menangkap para aktivis PKI. Sarwo Edhie sadar dengan pasukan yang ada tak mungkin bisa mencapai tujuan. Untuk itu, Sarwo Edhie minta bantuan tambahan dari Jakarta. Namun permintaan ditolak karena kebanyakan pasukan tentara masih berada diluar Jawa.
Lagi pula kepulangan Brigade Infanteri 4/Diponogoro dari wilayah perbatasan, pimpinan Kolonel Jasir Hadibroto, lebih meringankan beban yang dipikul oleh RPKAD. Brigif 4 ini berhasil menangkap dan membunuh D.N. Aidit dan Ir. Surachman. Selanjutnya, Brigif ini juga turut serta membantu RPKAD dalam melancarkan Operasi Merapi yang pelaksanaannya di bawah komando C.I. Santosa, yang akhirnya berhasil menghabisi Kolonel Sahirman dan kawan kawan. Pertengahan bulan Nomber 1965, para pemimpin AD di Jawa Tengah mulai kuatir atas pembunuhan massal yang berlangsung dan cenderung tidak terkendali. Tujuan Sarwo Edhie ke Jawa Tengah sendiri sebetulnya bukan untuk mencari kemenangan, tetapi mencoba membangkitkan semangat rakyat untuk melawan Gestapu/PKI dan menunjukkan siapa sebenarnya yang berada di balik peristiwa Gerakan 30 September. Sarwo Edhie mengatakan lebih lanjut bahwa pasukannya bertindak sejalan dengan permintaan Presiden yang meminta fakta sebanyak mungkin tentang keterlibatan PKI dalam Gerakan 30 September. Setelah menghancurkan PKI di Jawa Tengah dengan Kompi Benhur-nya dikirim ke Bali untuk memulihkan keamanan atas situasi pembunuhan massal yang semakin tidak terkendali. Tugas Sarwo Edhie di sana, sebagaimana dikatakannya, adalah untuk mengekang mereka terutama Pemuda PNI, agar tidak melakukan perbuatan yang kelewat batas. Kehadiran RPKAD tetap diwarnai dengan pembunuhan, tetapi sekarang di bawah koordinasi dan hanya aktivis-aktivis PKInya saja yang dieksekusi.
Kepopuleran Sarwo Edhie atas keberhasilannya menumpas PKI di Jawa Tengah menyebabkan dia diundang untuk menyemarakkan acara rapat umum yang diadakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia di halaman FK UI pada tanggal 10 Januari 1966. Sarwo Edhie disodori konsep awal Tritura yang berisi; Bubarkan PKI, Susun Kembali Kabinet Dwikora dan Turunkan Harga Sangan Pangan. Dalam rapat umum tersebut Sarwo Edhi diminta berbicara. Setelah memperkenalkan staf perwiranya, Mayor C.I. Santosa dan Mayor Gunawan Wibisono,dia mengatakan bahwa kehormatan besar baginya selaku komandan pasukan dapat berbicara di hadapan massa KAMI. Untuk itu, Sarwo Edhie dan Kemal Idris, mendorong mahasiswa untuk terus bergerak sebagai salah satu cara menekan Soekarno memenuhi harapan mereka.
Men/Pangad Soeharto berdasarkan Surat Perintah Presiden Soekarno, Jakarta 11 Maret 1966, yang kemudian dikenal dengan Supersemar, mengeluarkan surat perintah mengenai pembubaran PKI beserta ormas bawahannya. Untuk menyambut pembubaran ini, Sarwo Edhie memprakarsai diadakan pameran kekuatan. Ketika dia dengan pasukannya beserta tank-tank siap bergerak, dia mendapat perintah membatalkan pawai tersebut dan pasukannya diminta untuk menempati pos-pos tertentu di Ibukota Jakarta. Situasi dilema ini menimpa diri Sarwo Edhie. Kalau dilanggar berarti mempertaruhkan pangkat dan jabatannya. Sebaliknya kalau dibatalkan akan menurunkan semangat Orde Baru dan juga memalukan dirinya, pada akhirnya dia menolak perintah tersebut. Peserta pawai terdiri dari RPKAD, Brigade Para Kostrad, Yonif 314 dan 315 Siliwangi, Batalyon Raider 328 Siliwangi, Yonif 527 Brawijaya, Brigade Kaveleri, Satuan Penerbang TNI-AD dan ribuan pelajar-mahasiswa. Pawai bergerak dari lapangan Parkir Timur Senayan. Pawai kemenangan itu berlangsung semarak.
Akhirnya, bulan Maret 1967, diselenggarakan sidang MPRS yang memutuskan mengenai larangan terhadap Soekarno mengambil bagian dalam kegiatan politik sampai Pemilihan Umum. Untuk memberlakukan keputusan ini maka mandat MPRS dan semua kekuasaan Soekarno dicabut sebagaimana diatur dalam UUD 1945. Kemudian MPRS mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Penjabat Presiden RI. Meskipun Soekarno sudah dicopot dari kekuasaannya, Sarwo Edhie, Kemal Idris dan HR Dharsono masih bersikeras menghendaki agar Soekarno diadili. Untuk menghindari situasi yang lebih buruk lagi,khususnya pertikaian antara pro dan anti-Soekarno, maka dalam melangkah, dilakukan mutasi terhadap faksi-faksi yang berseteru. Tidak lama setelah Soekarno diturunkan dari kekuasaanya, pada bulan Juni 1967, Sarwo Edhie pun dipindah tugaskan menjadi Panglima Kodam II/ Bukit Barisan.
Apapun alasan di balik pengunduran dirinya, Sarwo Edhie adalah figur yang sudah terlanjur diselubungi mitos tertentu, dan bahkan juga diselimuti tragedi. Dia tidak pernah diperhitungkan orang sebelum peristiwa G-30-S/PKI, tiba-tiba namanya mencuat karena keberhasilannya menampilkan dirinya sebagai Komandan RPKAD yang maupun menyerbu Halim dan menumpas PKI di Jawa Tengah. Dia berada dalam kedudukan strategis dan momentum yang tepat, tidak menyia-nyiakan kesempatan sejarah yang diberikan kepadanya. Untuk itu dia memang berhasil dan mencatatkan namanya dalam Sejarah Indonesia. Tentu saja berbagai teka-teki dan informasi yang belum terungkap selama ini dari peranannya dalam pembentukan Orde Baru, bisa jadi akan terungkap secara tuntas. Namun harapan tersebut, tinggal menjadi harapan. Sarwo Edhie, tanggal 9 November 1989 dini hari, telah menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Gatot Subroto. Dia meninggalkan seorang istri, Sunarti Sri Hadiyah, lima putri dan dua putra, serta delapan cucu. Dia dimakamkan di tempat kelahirannya, di desa Ngupasan Puworejo, tepat bersamaan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November 1989.

Rabu, 03 Februari 2010

Ungu, ungu bukan ( warna ) janda. . ,

Ungu, ungu bukan ( warna ) janda. . , .
Uh postingan kali ini meh nulis apa ya??? Bosen juga liburan di rumah , udah sepi mati lampu pula. Walhasil setelah berhasil nyalain plus dengerin musik, segelas kopi susu angket siap jadi temen menebus dinginnya malam ( sedikit puitis lah ). Tiba tiba aja pas lagi dengerin yang agak nge slow eh lagunya ungu yang Cinta Gila nyelonong aja nyanyi. Siapa yang masukin di playlist???? Bingung juga. . . .
Ngomongin ungu jadi inget dulu pas di kampus meh ada rencana buat jaket kelas, ada yang nyeletuk minta jaket warna ungu!!!!!! ( perasaan gag nyambung deh ) he5 . Wah pro kontra nih, cari sensasi aja. Yang setuju bilang warna ungu tuh keren plus agak gimana gitu. But yang nolak gag kalah banyak. Ungu identik dengan janda ( katanya seeeh ). Wah udah bawa bawa SARA nie . .. eh emangnya Janda ikut jadi SARA????? Ngawur ah.Ini sih labelling aja, gag tau dari mana dan siapa yang bertanggung jawab.
Suara suara ember yang menentang makin banyak aja deh. Ada yang bilang takut dikira nyindir dosen dosen yang udah jadi janda, dosen wanita maksudnya. Sebenernya apa sih hubungan ungu sama janda?? Perasaan janda juga ne pake baju gag Cuma ungu, malah ada yang pake baju warna warni kayak pelangi. So kenapa musti ungu????
Ungu, seperti warna sekunder lain kecipta dari gabungan antara merah sama biru, jadi merah yang agak hangat nyampur sama biru yang bikin adem. Ungu bisa nampilin kesan mewah, ambisius dan spiritualitas tetapi juga membawa kesan murung dan mistis. Ungu juga memberi kesan sensual yang tinggi, bikin agag gimana gitu. Mungkin karena janda sering disebut atau diasosiasikan dengan sensualitas tinggi, makanya Ungu jadi diidentikkan dengan janda. Padahal itu Cuma asosiasi masyarakat terutama cowo cowo. Heeeem dipikir pikir ungu malah lebih terkesan hangat dan romantis menurut aku. Soal ungu itu warna janda atau bukan jangan salahkan si ungu atau si janda, itu Cuma sesuatu yang dilebihi lebihkan. Jadi PD aja pake ungu sambil nyanyi lagu Ungu hheeh. . . . .. eheheheheheheh. .. . . . . . .

Kamis, 14 Januari 2010

HISTORIOGRAFI

A. Pembelajaran Metode Sejarah
Historiografi adalah seni dalam penulisan sejarah, tidak hanya dalam kegunaan sebagai literatur sejarah ataupun satu kesatuan dalam penulisan sejarah, tetapi dengan menyesuaikan dengan aturan yang sama. Studi tentang sejarah dari metode kerja para sejarawan yang diterbitkan adalah nilai dari obyek pembelajaran.Ada 3 cara pengujian dari buku sejarah yang bisa dilakukan yaitu :
a) Rencana pembelajaran , transfer materi dan bahan. Cara ini terbilang mudah jika adanya isi dari table analitis. Keberhasilan pada tahap ini menentukan tata urutan dari keseluruhan bagian.
b) Pembelajaran Awal.Tulisan pertama biasanya berisi perkenalan sedangkan yang kedua membuatnya lebih berguna. Pengenalan yang dilakukan sejarawan menunjukkan tujuan tulisannya tetapi tidak menunjukkan kompetisi dari metode penelitiannya.
c) Pembelajaran dari pekerjaan sejarah secara keseluruhan. Pekerjaan ini tidak membutuhkan waktu jika pertanyaan yang berkaitan dengan metode tidak terdapat di buku utama.
Metode Perbandingan
Metode perbandingan dapat dipakai dari penganbilan pembelajaran pada
satu institusi , seperti pada persamaan waktu dan tempat. Sejarawan akan memilih semua bukti yang ada dan menghubungkan semua bukti yang ada dan memunculkan arti yang mendalam. Pada akhirnya intrepretasi fakta adalah cara untuk menunjukkan fakta yang paling benar kepada pembaca.

B. Mengapa Sejarah Ditulis Kembali
Karakteristik catatan sejarah yang tidak statis mulai dibuat menjadi sesuatu yang tetap.Sisa sisa dari penulisan sejarah dari zaman kuno sudah mulai dibendakan walaupun benda benda ini kurang begitu berarti. Literatur asli dianggap sebagai sesuatu yang mempunyai unsure seni. Penulisan dengan tujuan mengklasifikasikan biasanya menunjukkan fakta yang tertulis dianggap lebih penting. Catatan sejarah bisa menjadi tetap karena beberapa factor yang menyebabkan sejarah ditulis kembali, yaitu :
1. Ada sesuatu yang tidak wajar dalam sejarah.
Dalam penulisan sebuah tulisan sejarah sering dijumpai kekurang telitian dan kesalahan yang positif. Selain itu banyaknya penulisan yang mirip juga membuat sejarawan zaman sekarang melakukan pekerjaan yang merupakan warisan dari penulisan masa lampau.
2. Adanya penemuan fakta baru
Alasan kedua mengapa sejarah memerlukan penulisan kembali adalah masalah waktu. Waktu lampau dalam penulisannya membuatnya tidak dapat terhndar dari penghapusan, ketidak jelasan dan kesalahan catatan di masa lampau.
3. Reintrepretasi bahan lama.
Ini tidak berarti sejarawan harus menyajikan fakta yang benar benar baru, Jika sudah bisa menyajikan reorganisasi yang signifikan akan memperjelas fakta fakta yang sudah dikenal. Pengulangan cerita, penafsiran sumber sumber lama termasuk kedalam intrepretasi sumber baru.
4. Perubahan sikap menuju masa lalu.
Minat terhadap masa lalu selau berubah dan tidak tetap. Pada paruh kedua abad 18 sejarawan kurang memperhatikan kondisi social ekonomi. Politik dan militer lebih banyak mengisi dalam penulisan sejarah. Tetapi memasuki millennium baru terjadi perubahan yang cukup mencolok. Diyakini bahwa kisah manusia yang terbaik adalah yang disajikan dari sudut pandang pertumbuhan ide ide dan pertumbuhan intelektual pada umumnya.

C. Perbaikan Sejarah
Suatu kejadian sejarah di masa lampau menjadi tuga sejarawan untuk memperbaiki peristiwa sejarah tersebut dari berbagai sudut pandang dan intrepretasi. Proses penelitian yang tidak menunjukkan adanya bukti memperbanyak pandangan yang identik. Semisal pada penyampaian sejarah Inggris, penulisan yang baru menuliskan pembaharuan pada factor puritan. Cerita revolusi Amerika pun demikian.

D. Contoh
Disemua bagian Eropa sangat mengerikan dengan terror di akhir tahun 1000 yang menyangka akan dibawa ke ujung dunia. : George L Burr ,Tahun 100 dan awal mula perang Salib.( 1901 )
Karakter hakim Jeffry yang kejam digambarkan dalam tradisi, Seymour Schofield. Jeffreys Sidang Berdarah.( London 1937 )
Perancis mendahului Inggris dalam eksplorasi lembah Ohio. Clarence W Alford dan Lee Bidgood . Eksplorasi pertama Negara seberang Allegheny dengan Virginia. ( Cleveland 1912 )
Petualangan Spanyol dan Portugis dalam perdagangan pada abad ke 15 kembali menuju barat, jalan melalui negara Asia Timur ditutup karena orang Turki .Albert H. Lyber. Pengaruh orang Turki dalam perdagangan Timur. (1919)

E. Masalah Historis
Persiapan untuk penulisan biasanya langsung pada pokok persoalan yang bisa dijelaskan secara panjang lebar ataupun hanya dengan satu keterangan yang benar. Pokok persoalan kadang kadang tidak mudah dilihat, tetapi dalam sejarah banyak memberikan contoh situasi dan peristiwa yang bisa kita ambil menjadi gagasan masalah. Ini tidak memungkinkan adanya pemberian keterangan tetapi pemeriksaan mungkin dilakukan saat banyak atau sedikitnya pemeriksaaan dan pertimbangan bukti

F. Masalah Historis
Persiapan untuk penulisan biasanya langsung pada pokok persoalan yang bisa dijelaskan secara panjang lebar ataupun hanya dengan satu keterangan yang benar. Pokok persoalan kadang kadang tidak mudah dilihat, tetapi dalam sejarah banyak memberikan contoh situasi dan peristiwa yang bisa kita ambil menjadi gagasan masalah. Ini tidak memungkinkan adanya pemberian keterangan tetapi pemeriksaan mungkin dilakukan saat banyak atau sedikitnya pemeriksaaan dan pertimbangan bukti
G. Masalah Historis
Persiapan untuk penulisan biasanya langsung pada pokok persoalan yang bisa dijelaskan secara panjang lebar ataupun hanya dengan satu keterangan yang benar. Pokok persoalan kadang kadang tidak mudah dilihat, tetapi dalam sejarah banyak memberikan contoh situasi dan peristiwa yang bisa kita ambil menjadi gagasan masalah. Ini tidak memungkinkan adanya pemberian keterangan tetapi pemeriksaan mungkin dilakukan saat banyak atau sedikitnya pemeriksaaan dan pertimbangan bukti

Rabu, 13 Januari 2010

makna hidup

jika sebuah kehidupan terasa mulai tidak bermakna, maka hanya ada beberapa jalan untuk membuat kita mensyukurinya.
  1. Fikirkanlah apa yang tuhan berikan untuk kita. Banyak sekali nikmat dan karunianya yang kita ingkari, baik yang nampak maupun tidak. Secara sederhana lihatlah bagaimana kita bernafas, udara yang kita hirup adalah kenikmatan yang tiada duanya, gratis dan tak terhingga.
  2. Lihatlah sekeliling kita. Masih banyak orang yang bernasib tidak lebih baik dari kita. Bahkan diantara kekurangan mereka bersyukur pun tidak mereka lupakan. Sesuap nasi telah bisa membuat mereka berucap Alhamdulillah. Bandingkan dengan kita yang selalu kekurangan bahkan dalam kelimpahan materi sekali pun.
  3. Keyakinan kita pada yang maha memberi hidup bukanlah sekedar keyakinan duniawi, tetapi juga berkelanjutan menuju akhirat. Ini akan selalu membuat kita menyadari apa yang kita lakukan pasti berdampak dengan yang kita pertanggungjawabkan kelak.

Mungkin mengutip apa yang sebuah grup band nyanyikan, anda pasti tahu tentunya
"syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah, tetap jalani hidup ini , melakukan yang terbaik.. tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya. . . bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa. . . .

NAFSU BERKUASA = AWAL KUDETA POLITIK

Nafsu berkuasa pada manusia adalah hal yang wajar,tetapi jika dibiarkan banyak hal yang bisa terjadi, terutama yang negative. Dalam lingkup yang lebih kecil, nyawqa seseorang bisa saja hilang dengan mudah tanpa pertimbangan kemanusiaan. Dalam lingkup suatu Negara, sebuah chaos bisa terjadi diawali dengan intrik intrik poltik. Intrik politik atau kelihaian berpolitik menentukan dalam kelangsungan suatu pemerintahan. Kepandaian diplomasi, menyusun stategi bahkan dengan sedikit kekerasan sah sah sja digunakan untuk mencapai tujuan. Kup, kudeta atau apapun namanya boleh saja menimbulkan suatu pertikaian yang tidak selesai dan membawa pertikaian yang selanjutnya. Kudeta terselubung melalui jalan damai juga digunakan, mulai dari perkawinan politik samapai dengan desas desus yag digunakan untuk menjatuhkan suatu pemerintahan. Kudeta juga didalangi pihak luar yang tidak begitu menghendaki suatu pemerintahan memegang kekuasaan semisal pada peristiwa Teluk Babi di Kuba. Fidel Castro hendak dikudeta Amerika Serikat melalui pelarian orang orang Kuba yang dilatih dan dipersenjatai Amerika . Namun kudeta ini gagal dan membuat dunia tahu bahwa ini sebenarnya dirancang oleh badan intelejen Amerika, CIA. Yah apapun itu tujuan kudeta yang sebenarnya didorong oleh nafsu berkuasa manusia. Manusia yang terkuasai oleh nafsu berkuasa ibarat sudah kehilangan akal. Semua bisa dilakukan tanpa ada sebuah pertimbangan kemanusiaan ataupun kebersamaan.

Sepanjang sejarah Indonesia ada di muka bumi, atau zaman dulu disebut Nusantara banyak intrik intrik atau kup politik dalam pergantian kekuasaannya. Yang paling sukses tentu saja dimulai dari kesuksesan perkawinan politik antara Pramodawardani (wangsa Syailendra) dengan Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya) pada pertengahan abad ke 9. Perkawinan ini secara tidak langsung menguatkan kembali kekuasaan Wangsa Sanjaya setelah sekian lama terkungkung oleh kekuasaan wangsa Syeilendra. Kemudian ada kepintaran Ken Arok dalam merebut simpati rakyat sehingga bisa membunuh Tunggul Ametung, meguasai daerah kekuasaannya, serta mengambil istrinya!!!!!. Walaupun akhir tragis juga lah yang mengakhiri nyawa Ken Arok bahkan berlanjut hingga anak keturunannya!!!. Kelihaian berpolitik dan berperang juga diperlihatkan Raden Wijaya dalam merebut kembali kekuasaan dari raja kadiri Jayakatwang pada 1293 M. Kedatangan tentara Tiongkok digunakan untuk menghancurkan Jayakatwang dan setelah berhasil giliran tentara Tiongkok yang diserang raden Wijaya.

Pada masa modern dan lebih menjadi perdebatan adalah peristiwa G30S/PKI yang pada akhirnya melengserkan Soekarno dan membawa Soeharto ke 32 tahun pemerintahan yang penuh kontroversi. Meskipun banyak teori yang meyakini teri bahwa PKI lah yang mendalangi peristiwa ini tetapi terselip sat uteri yang menyatakan bahwa Soeharto lah pelaku kudeta yang sesungguhnya. Kekacauan yang terjadi disebut sebut sebgai ulah CIA, dinas intelejen Amerika. Kemudian perlahan peran Soeharto menguat dan memuncak denagn Supersemar yang controversial.

Sekarang tergantung pada kita untuk menyikapi hal hal yang terjadi diatas. Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa mebiarkan nafsu berkuasa tumbuh ibarat memberi makan bayi Singa dengan daging segar. Suatu saat jika nafsu sudah menguasai Singa, bukan mustahil kita lah yang akan menjadi daging segar itu. Nafsu berkuasa bisa menjadi sebuah motivasi , tetapi ini ibarat pisau bermata dua, jika tak pintar pintar menjaga maka siap siaplah tergores ,terluka bahkan terbunuh.